
Diatas perahu tradisional ini belum ada bayangan apa-apa tentang desa Alue Gejerun, dimobil tadi rekan-rekan sesama wartawan yang berniat meliput kelokasi itu hanya bercerita seputar situasi masyarakat desa yang ketakutan diteror kawanan gajah liar, kondisi desa yang tidak memiliki akses transportasi darat, letak desa yang berada dikaki Gunung Leuser dan nikmatnya ikan kerling, ikan khas yang hanya terdapat dialur sungai Alas tempat warga menggantungkan mata pencarian.
3 jam dihempas arus deras ombak terasa tak terlalu melelahkan, kicauan burung dan gaduhnya monyet-monyet yang bergantungan dipohon-pohon berukuran raksasa serasa menemani perjalanan kami, meski pun tentu saja ada rasa tak sabar untuk segera melihat langsung separah apa sebenarnya amukan gajah-gajah yang memaksa warga mengungsi dari desanya itu, "gak bisa terlalu kencang pak karena kita 7 orang diperahu ini, kalau 2 atau 3 orang biasanya 3 atau 3,5 jam sudah sampai" jelas Agam pemuda setempat yang perahunya kami "booking" sepanjang hari ini.
Setibanya didesa Alue Gejerun warga beramai-ramai berdiri ditepi sungai, meski sempat heran namun hal ini akhirnya terjawab setelah seorang rekan wartawan memberitahu "Agam sudah memberitahu kedatangan kita, makanya kita disambut" kata kawan ini dengan raut wajah bangga, "warga disini jarang lihat televisi, jadi belum terlalu paham tentang profesi wartawan" katanya tersenyum penuh arti.
Warga lalu menggiring rombongan kami menuju kesalah satu rumah yang ambruk diamuk gajah, luar biasa rupanya tenaga gajah-gajah ini, bayangkan saja, rumah berkonstruksi papan berukuran 5X10 meter terbalik dengan posisi atap tepat berada dibawah, beberapa papan di dindingnya patah dan paku-pakunya terlepas dari tiang "ini rumah pak Abadi, saat gajah mengamuk dia sedang tidur, untung saja dia tidak apa-apa" kata Abu salah seorang warga yang ladangnya ikut menjadi korban keganasan gajah, konon ketika rumahnya terbalik pak Abadi ikut terpelanting-pelanting dikamar tidurnya, menyadari yang menerjang rumahnya adalah gajah pak Abadi berlari sekuat tenaga kerumah Abu, esoknya ia mengungsi bersama keluarganya kedesa Manggamat Kecamatan Kluet Tengah Kabupaten Aceh Selatan, sejak itu Abadi mengaku tidak akan mau kembali kedesanya.
Selain 3 rumah penduduk, satu-satunya masjid yang ada didesa Alue Gejerun juga ikut terkena amukan kawanan gajah, beruntung hanya dinding bagian depan saja yang dirusak, namun akibat hal ini warga mengaku mulai was-was menjalankan ibadah malam dimasjid ini, khawatir gajah-gajah liar ini kembali menyatroni masjid tersebut "kami bahkan bergantian jaga malam pak, kalau gajah itu datang lagi paling tidak kami bisa membangunkan seluruh warga untuk menyelamatkan diri" kata Abu menjelaskan kondisi didesa mereka sepekan terakhir.
Menurut Abu sebenarnya kejadian ini sudah dilaporkan warga ke Pemerintah Daerah Kabupaten Aceh Selatan, namun hingga saat ini pengaduan mereka belum juga ditanggapi "sudah beberapa kali pak, namun entah kenapa sampai sekarang belum ada bantuan pada kami" ungkap Abu dengan wajah murung.
Puas mengambil gambar berkeliling melihat kondisi desa, rombongan kami memutuskan untuk makan bersama disalah satu rumah penduduk sebelum kembali ke Tapak Tuan, ibukota Kabupaten Aceh Selatan untuk membuat laporan ke redaksi kami masing-masing, selain lapar rombongan kami memang berniat membuktikan cerita warga tentang sensasi rasa ikan kerling…, benar saja, ternyata, nikmatnya ikan kerling memang berbeda dari ikan-ikan lainnya, meski hanya direbus dengan campuran asam dan garam saja cukup membuat rombongan kami menyantap hidangan sederhana ini dengan lahap.
Sambil bercanda masing-masing kami terus berbincang dengan warga yang ikut makan bersama, ini memang kebiasaan kami-kami para reporter, untuk menambah muatan informasi yang akan ditulis untuk dikirim ke kantor nanti, sedang asyik-asyiknya berbincang tiba-tiba seorang lelaki bertubuh kekar, berkulit legam nyelonong masuk menghampiri kami, mukanya pucat dengan raut wajah putus asa, matanya sayu seperti sedang menahan-nahan kantuk yang luar biasa, sedikit bergetar suaranya yang serak terdengar berat "pak, kalau sudah dishooting apakah akan ada bantuan untuk desa kami?"............kami semua terdiam.
Roni, Subulussalam 12 okt 09
Disebuah ruang warnet berpendingin AC




0 komentar:
Posting Komentar